Halaman

Senin, 16 Januari 2012

Akuntansi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari, sesungguhnya kita telah menggunakan jasa akuntansi. Ketika seorang ibu rumah tangga pada akhir bulan menghitung jumlah uang berdasarkan catatan hariannya, yang diantaranya terdapat pengeluaran (bon belanja, uang sekolah anak, pemberian uang jajan untuk anak, pengeluaran untuk berlibur, dsb.) dan juga terdapat pemasukan, yaitu gaji bulanan dari suami. Hal tersebut dianggap penting agar kita dapat melihat, menilai, dan memutuskan tindakan yang akan dilakukan untuk kedepannya.
Melihat hal tersebut sebenarnya setiap orang memerlukan catatan mengenai kondisi keuangannya, apalagi dengan para pedagang zaman dahulu. Mereka akan membandingkan jumlah harta pada waktu berangkat dengan jumlah harta pada waktu pulang. Itulah awal mula sejarah timbulnya akuntansi.
Mempelajari sejarah dan perkembangan akuntansi merupakan hal yang sangat penting untuk memahami dan mengapresiasikan praktek sekarang, masa depan dan struktur institusional bidang sains akuntansi. Banyak hal yang kita peroleh apabila kita mempelajari sejarah. Paling tidak kita bisa memahami apa yang terjadi di masa lalu serta bagaimana proses perkembangannya sehingga perkembangan itu sampai seperti saat ini. Kemudian kita juga memiliki dasar untuk memprediksi apa yang akan muncul di masa yang akan datang sehingga dalam menghadapinya kita lebih siap dan mampu mengambil dari peluang yang ada jika situasi berjalan normal.
Sejarah perkembangan akuntansi memiliki banyak versi, oleh karena itu dalam paper ini akan dibahas agar tidak terjadi kekeliruan mengenai sejarah awal terciptanya akuntansi, dimana dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan teori akuntansi di masa yang akan datang.

1.2. Rumusan Masalah
a.       Bagaimana sejarah perkembangan akuntansi dari pertama kali muncul sampai sekarang?
b.      Bagaimanakah sejarah prinsip akuntansi di Indonesia?
c.       Bagaimanakah pengertian akuntansi dari para ahli?

1.3. Tujuan
a.       Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen
b.      Mendapat gambaran yang pasti tentang sejarah perkembangan akuntansi dari dulu sampai sekarang.
c.       Dapat memahami pengertian akuntansi dari sejarah dan pendapat dari beberapa para ahli.
d.      Dapat mengetahui bagaimana sejarah prinsip akuntansi di Indonesia.

1.4. Manfaat
Adapun beberapa manfaat yang diharapkan penulis dalam pembuatan paper ini yaitu sebagai berikut :
a.       Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang seluk beluk ilmu akuntansi.
b.      Meningkatkan rasa disiplin dan tanggung jawab dalam menyelesaikan suatu masalah atau pekerjaan yang dibebankan orang lain kepada penulis.
c.       Sebagai bahan acuan dan bacaan bagi diri sendiri, rekan-rekan yang memerlukan, serta generasi yang akan datang.
d.      Menumbuhkan rasa ingin tahu pembaca tentang sejarah perkembangan akuntansi.
e.       Memberikan motivasi penulis untuk bisa berkreativitas dalam menyajikan sebuah paper yang akan dibaca oleh pihak-pihak yang memerlukan.

1.5. Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu suatu teknik analisis yang menggambarkan atau menguraikan fenomena-fenomena yang terjadi tanpa mencari sebab akibat yang ditimbulkannya.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan akuntansi dari masa ke masa. Apakah ada perubahan-perubahan yang mempengaruhi system akuntansi serta prinsip-prinsip akuntansi yang telah diterapkan sampai saat ini.


                                                              BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perkembangan Sejarah Akuntansi
Akuntansi sebenarnya sudah ada sejak manusia itu bisa menghitung dan membuat suatu catatan. Dimana pada zaman dulu mereka menggunakan alat-alat sederhana seperti batu, kayu, kulit kayu, bahkan daun menurut tingkat kebudayaan manusia pada saat itu. Sejalan dengan perkembangan manusia pun mengenal uang sebagai alat pembayaran yang sah. Pencatatan keluar masuknya uang, timbulnya hutang piutang, serta transaksi-transaksi lainnya mereka lakukan pada mulanya di atas lempengan tanah liat yang kemudian berkembang dengan menggunakan lontar. Naskah yang menggunakan lontar tersebut berasal dari Negara Arab (Mesir), pada waktu itu Arab (Mesir) merupakan jajahan bangsa Romawi. Naskah tersebut hingga sekarang masih tersimpan dengan baik, berasal dari Babilonia pada tahun 3600 SM dan merupakan catatan tertua yang berhasil ditemukan pada saat itu. Penemuan yang sama juga diperoleh di Mesir dan Yunani Kuno. Setelah bangsa Romawi menemui kesulitan dalam menggunakan angka-angkanya sendiri, maka kemudian mereka menggunakan angka Arab (angka decimal) yang pada waktu itu sudah dikenal oleh orang Mesir.
Perkembangan akuntansi sejalan dengan perkembangan organisasi dan kegiatan suatu usaha, karena kehadirannya memerlukan pencatatan di dalamnya sehingga seluruh kegiatan akan tergambar. Terjadinya perkembangan dan perluasan perdagangan oleh pedagang-pedagang Venesia menyebabkan orang pada zaman itu memerlukan suatu system pencatatan yang lebih baik, sehingga dengan demikian akuntansi pun mulai berkembang. Evolusi akuntansi terjadi bersamaan dengan ditemukannya system pembukuan berpasangan yaitu “Double Entry” oleh pedagang-pedagang Venesia yang merupakan pedagang yang terkenal dan ulung pada saat itu. Double Entry merupakan pencatatan seluruh transaksi ke dalam dua aspek yaitu “Debit” dan “Kredit” yang orientasinya selalu dalam keadaan seimbang.
Pada abad ke 15 tepatnya pada tahun 1494, akuntansi yang menggunakan angka Arab berkembang di Italia. Seorang ahli matematika berkebangsaan Italia yang bernama Lucas Pacioli menyusun dan menerbitkan buku tentang akuntansi yang diberi judul “SUMMA DE ARITHMATICA, GEOMATRICA, PROPORPIONI ET PROPORTIONALITA”. Buku hasil karya Lucas Pacioli ini terdapat suatu bab yang memperkenalkan dan mengajarkan system pembukuan berpasangan yang disebut juga dengan system continental, berjudul “TRACTACUS DE COMPUTIS ET SCRIPTORIA”. Buku inilah yang kemudian tersebar di Benua Eropa Barat dan dikembangkan kembali oleh para ahli-ahli akuntansi sehingga timbullah beberapa system akuntansi yang tetap mengacu pada metode yang digunakan oleh Lucas Pacioli.
Sistem yang berkembang tersebut dinamakan sesuai dengan nama yang mengembangkannya atau dengan nama negaranya masing-masing. Misalnya system Belanda (Sistem Continental) dan Amerika Serikat (Sistem Anglo Saxon). Sistem-sistem tersebut kemudian berjalan sesuai dengan perkembangannya. Pada abad sekarang ini, system yang paling banyak digunakan adalah system Anglo Saxon. Hal ini disebabkan karena system Anglo Saxon dapat digunakan untuk mencatat berbagai macam transaksi sedangkan yang lainnya agak sukar untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena system yang lain sering memisahkan antara pembukuan dengan akuntansi, sedangkan dalam system Anglo Saxon pembukuan merupakan bagian dari akuntansi.
2.2. Sejarah Akuntansi di Indonesia
Sejarah akuntnasi di Indonesia tentu saja tidak lepas dari perkembangan akuntansi di Negara asal perkembangannya. Dengan kata lain, Negara luarlah yang  membawa akuntansi itu masuk ke Indonesia kendati pun tidak bisa disangkal bahwa di masyarakat Indonesia sendiri pasti memiliki system pencatatan pelaporan tersendiri.
Sebelum bangsa Eropa masuk ke Indonesia transaksi dagang dilakukan secara barter. Tentu saja cara ini tidak menggunakan pencatatan. Pada waktu orang-orang Belanda datang ke Indonesia kurang lebih abad ke 16, mereka datang untuk tujuan berdagang. Kemudian mereka membentuk Maskapai Perserikatan Belanda yang dikenal dengan nama “Vereenidge Oost Indische Campagnie”, biasa disebut VOC. VOC berdiri pada tahun 1602 dan pada akhir abad ke 18 yaitu pada tahun 1799 VOC mengalami kemunduran dan akhirnya dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799. Dalam kurun waktu itu, VOC memperoleh hak monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilakukan secara paksa di Indonesia, dimana jumlah transaksi dagangnya, baik frekuensi maupun nilainya terus bertambah dari waktu ke waktu. Pada tahun itu bisa dipastikan Maskapai Belanda telah melakukan pencatatan atas mutasi transaksi keuangan. Dalam hubungan itu, Ans Saribanon Sapiie (1980), mengemukakan bahwa menurut Stible dan Stroomberg, bukti autentik mengenai catatan pembukuan di Indonesia paling tidak sudah ada menjelang pertengahan abad ke 17.
Setelah VOC bubar pada tahun 1799, kekuasaannya diambil alih oleh kerajaan Belanda, zaman penjajahan Belanda dimulai pada tahun 1800-1942. Pada waktu itu, catatan pembukuannya menekankan pada mekanisme debet dan kredit, yang antara lain dijumpai pada pembukuan Amphioen Socyteit di Batavia yang bergerak dalam usaha peredaran candu dan morfin (Amphioen) yang merupakan usaha Monopoli di Belanda. Banyak perusahaan Belanda yang didirikan di Indonesia pada abad ke 19. Catatan pembukuannya merupakan modifikasi system Venesia-Italia, dan tidak dijumpai adanya kerangka pemikiran konseptual untuk mengembangkan system pencatatan karena kondisinya sangat menekankan pada praktik-praktik dagang yang semata-mata untuk kepentingan perusahaan Belanda.
Hadibroto (1992) mengikhtisarkan system pembukuan asal etnis sebagai berikut :
1.      System Pembukuan China
a.       Sistem Hokkian (Amoy)
b.      Sistem Kanton
c.       Sistem Hokka
d.      Sistem Tio Tjoe (Swatow)
e.       Sistem Gaya Baru
2.      System Pembukuan India (Bombay)
3.      System Pembukuan Arab (Hidramaut)
Pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942-1945, banyak orang belanda yang ditangkap dan dimasukan ke dalam sel-sel tahanan oleh tentara Jepang. Hal ini menyebabkan kekeurangan tenaga kerja pada jawatan-jawatan Negara termasuk Kementrian Keuangan. Untuk mengatasi hal tersebut, diadakan latihan pegawai dan kursus-kursus pembukuan pola Belanda dengan tenaga pengajar antara lain yaitu J.E de I’duse,Akuntan, Dr. Abutari,Akuntan, J.D. Masie dan R.S. Koesoemoputro. Sejalan dengan itu, maka kondisi pembukuan pada masa pendudukan Jepang tidak mengalami perubahan yang berarti, tetap menggunakan pola Belanda. Jepang juga mengajarkan pembukuan dengan menggunakan huruf Kanji, namun tidak diajarkan pada orang-orang Indonesia.
Akuntansi di Indonesia pada awalnya menganut system continental, seperti yang dipakai Belanda pada saat itu. System ini juga disebut dengan system tata buku yang sebenarnya tidaklah sama dengan akuntansi, dimana tata buku menyangkut kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif dari proses pencatatan, peringkasan, penggolongan dan aktivitas lain yang bertujuan menciptakan informasi akuntansi yang berdasarkan pada data. Sedangkan akuntansi menyangkut kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif dan analitical seperti kegiatan analisis dan interpretasi berdasarkan informasi akuntansi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembukuan adalah bagian dari akuntansi.
Perkembangan selanjutnya tata buku sudah mulai ditinggalkan orang. Di Indonesia banyak perusahaan-perusahaan atau orang-orang yang mulai menerapkan system akuntansi Anglo Saxon. Berkembangnya system akuntansi Anglo Saxon di Indonesia disebabkan karena adanya penanam modal / investor asing di Indonesia yang membawa dampak positif terhadap perkembangan akuntansi, karena sebagian besar penanam modal / investor asing tersebut menggunakan system akuntansi Amerika Serikat yaitu Anglo Saxon. Penyebab lain, yaitu sebagian besar mereka yang berperan dalam kegiatan perkembangan akuntansi, menyelesaikan pendidikannya di Amerika kemudian menerapkan ilmu akuntansi tersebut di Indonesia. Saat ini system akuntansi Anglo Saxon sangat populer di Indonesia baik dalam pendidikan akuntansi maupun dalam praktek kegiatan bisnis.
Di Indonesia pendidikan akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1952. Pembukuan ini kemudian diikuti Institut Ilmu Keuangan (sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) pada tahun 1960, Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran tahun 1961, Universitas Airlangga pada tahun 1962, Universitas Sumatra Utara pada tahun 1964, dan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1964.
Organisasi profesi yang menghimpun para akuntan di Indonesia berdiri pada 23 Desember 1957. Organisasi ini diberi nama Ikatan Akunta Indonesia (IAI), dengan pendiri lima orang akuntan Indonesia. Profesi akuntan berkembang pesat sejak tahun 1967. Pada tahun itu juga dikeluarkannya undang-undang modal asing yang kemudian disusul dengan undang-undang penanaman modal dalam negeri pada tahun1968 yang merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi pada tahun 1997 peran profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat profesi ini memiliki peran yang strategis di dalam menciptakan iklim transparansi di Indonesia.
2.3. Sejarah Prinsip Akuntansi di Indonesia
Untuk memudahkan pengkoordinasian akuntan di Indonesia didirikan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). IAI berhasil menyusun dan menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) pada tahun 1973. Dengan maksud antara lain : menghimpun prinsip-prinsip yang lazim berlaku di Indonesia dan sebagai prasarana bagi terbentuknya pasar uang dan modal di Indonesia pada waktu itu, laporan keuangan dari perusahaan yang akan go public harus disusun atas dasar prinsip-prinsip akuntansi di Indonesia.
Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk menghimpun prinsip akuntansi Indonesia 1973 antara lain :
1.      Buku Prinsip-Prinsip Accounting yang diterbitkan oleh Direktorat Akuntan Negara, Direktorat Jendral Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN), Departement Keuangan RI sekarang bernama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
2.      Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Bussiness Enterprice, oleh Paul Grady diterbitkan oleh AICPA.
3.      Opinions of Australian Accounting Principles, diterbitkan oleh Accounting and Auditing Research Committee dari Accounting Research Foundation.
4.      Kumpulan dari Accounting Research Bulletins diterbitkan oleh AICPA.
5.      A Statement of Australian Accounting Principles, diterbitkan oleh NIVRA.
6.      Wet op de Jaarekening Van Ondernemingen, diterbitkan oleh NIVRA.
PAI setelah berjalan selama satu dasawarsa, akhirnya disempurnakan pada tahun 1984. Hanya saja dalam PAI tahun1984 dibatasi pada hal-hal yang berhubungan dengan akuntansi keuangan yang diungkapkan secara garis besar atau bersifat umum tidak mencangkup praktik akuntansi untuk industri tertentu. Pada Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 masih memerlukan penjabaran lebih lanjut diatur dengan pernyataan sendiri.
Sehubungan dengan itu, komite PAI-IAI mulai tahun 1986 menerbitkan serangkaian pernyataan PAI dan interpretasi PAI untuk mengembangkan, menambah, mengubah, serta menjelaskan standar akuntansi keuangan yang berlaku yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari PAI 1984.
Setelah berlangsung selama sepuluh tahun PAI 1984 diganti menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 1994 (PSAK). PSAK 1994 ini mengadopsi pernyataan resmi Internasional Accounting Standard Committee (IASC). IAI mengadopsi pernyataan IASC sebagai dasar acuan standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia, kemuadian menerbitkan dua buah buku yaitu Standar Akuntansi Keuangan-Oktober 1994, Buku 1 dan Buku 2 yang berisi :
1.      Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.
2.      Seperangkat Standar Akuntansi Keuangan, terdiri dari 35 pernyataan yang setaraf dengan standar International.
Kerangka dasar dan seperangkat pernyataan tersebut merupakan landasan yang dianggap kokoh untuk pengembangan lebih lanjut. Berlaku untuk penyususnan Laporan Keuangan mencangkup periode laporan yang dimualai atau setelah tanggal 1 Januari 1995.
Sekarang ini standar akuntansi yang dikeluarkan oleh IAI disebut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Namun dengan adanya standar akuntansi untuk entitas Syariah, maka aka nada dua jenis standar akuntansi yaitu standar akuntansi konvensional dan standar akuntansi syariah yang saling mendukung.
Organisasi akuntan yang paling tua dan berpengaruh di Indonesia adalah Amerikan Institute of Certified Public Accountans (AICPA) dan American Accounting Association (AAA). Dari tahun 1959-1973, Dewan Prinsip Akuntansi (Accounting Principles Boards – APB) telah banyak memberikan tuntunan dalam pengembangan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim. APB terdiri dari delapan belas akuntan, anggota AICPA.
Pada tahun 1973 APB digantikan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (Financial Accounting Standards Boards – FASB). Badan tersebut terdiri dari tujuh anggota, empat diantaranya harus anggota CPA yang direkrut dari praktek umum FASB dibantu oleh Dewan Pertimbangan dengan duapuluh anggota, yang tanggung jawab utamanya ialah memberikan rekomendasi mengenai prioritas dan agenda kerja. Setelah menerbitkan memo hasil diskusi dan usulan pendahuluan dan setelah mengevaluasi tanggapan beberapa pihak, dewan tersebut mengeluarkan pernyataan standar akuntansi keuangan yang merupakan bagian dari prinsip-prinsip akuntansi yang lazim.
Beberapa lembaga pemerintah yang mempunyai andil dalam pengembangan prinsip-prinsip akuntansi ialah komisi pasar modal. Komisi yang didirikan berdasarkan undang-undang Kongres tahun 1934 ini mengeluarkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dalam penyiapan laporan keuangan dan laporan lain yang diminta komisi. Direktorat Pajak Amerika mengeluarkan peraturan yang mengatur perhitungan laba untuk keperluan pajak penghasilan. Organisasi-organisasi lain yang mempengaruhi perkembangan prinsip akuntansi di Indonesia antara lain, Institut Eksekutif Keuangan dengan mendorong dan mensponsori penelitian akuntansi, Asosiasi Akuntansi Nasional dan Federasi Analisis Keuangan.
2.4. Pengertian Akuntansi
Beberapa atau sebagian besar orang mengatakan bahwa akuntansi adalah bahasa bisnis, tapi pada dasarnya akuntansi merupakan suatu proses. Proses apakah yang dimaksud? Mari kita telusuri.
Akuntansi berasal dari kata asing Accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan hampir di seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis. Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah, dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang atau pihak yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya. Fungsi akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita dapat melihat posisi keuangan suatu organisasi serta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manager atau managemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.
Istilah akuntansi juga merupakan terjemahan dari accountancy yang mempunyai beberapa pengertian yang berbeda menurut para ahli. American Institute of Certifed Public Accountants (AICPA) 1953, dalam Accounting Terminology Bulletin No.1, mengatakan bahwa, “Accounting is the arts of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of money, transaction, and events, which are, in part at least of financial character and interpreting the results there of”, kalimat itu jika diterjemahkan adalah sebagai berikut, “Akuntansi adalah suatu seni pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran dengan suatu cara tertentu, yang dinyatakan dalam uang, traksaksi, dan peristiwa, paling tidak mengenai karakter keuangan dan penafsiran hasil.
Menurut American Accounting Associations (AAA), 1966 dalam A Statement of Basic Accounting Theory dikatakan, “ Accounting is the process identifying, measuring, and communicating economic information, to permit informed judgment and decisions by users of the informations”. Kalimat tersebut jika diterjemahkan adalah, “Akuntansi adalah suatu proses yang meliputi identifikasi, pengukuran, dan komunikasi dari informasi ekonomi yang memungkinkan penilaian dan pengambilan putusan yang berharga oleh pengguna informasi”.
AICPA merumuskan ulang pengertian akuntasi melalui Accounting Principles Boards (APB), dalam Opinion No.4, 1970 yang mengatakan bahwa, “Accounting is a service activity. Its fuction is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic entities, that is intended to be useful in making economic decisions, in making reasoned choices among alternative sources of actions”. Kalimat tersebut jika diterjemahkan adalah, “Akuntansi adalah aktivitas jasa yang berfungsi untuk menghasilkan informasi yang bersifat kuantitatif, terutama tentang keuangan dari suatu entitas ekonomi yang dimaksudkan untuk dapat berguna dalam pengambilan putusan ekonomi dalam menentukan pilihan yang dianggap memiliki dasar yang kuat yang dibandingkan dengan pengambilan pilihan yang lainnya”.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah sebagai berikut :
1.      Akuntansi merupakan suatu proses identifikasi/pengenalan, pengukuran, dan pelaporan ekonomi.
2.      Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna untuk penilaian dan pengambilan keputusan bagi pihak yang memerlukan.
Dengan demikian akuntansi memiliki kegunaan yaitu :
1.      Perencanaan (planning) : melalui informasi ekonomi yang tepat, maka manajemen perusahaan dapat menyusun rencana baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
2.      Pengendalian (controlling) : melalui informasi ekonomi yang akurat, maka manajemen perusahaan dapat mengontrol, dan menilai terhadap jalannya perusahaan.
3.      Pertanggungjawaban (responsibility) : meskipun laporan bersifat data kuantitatif, laporan tersebut dapat dipergunakan juga untuk menelusuri data kualitatif, sehingga dapat digunakan untuk bahan pertanggungjawaban manajemen.
Selain daripada itu semua, beberapa para ahli juga memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang akuntansi, sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Berikut adalah beberapa ahli yang menjelaskan tentang akuntansi yaitu :
1.      Menurut Weygant (dalam Yadiati dan Wahyudi, 2007) akuntansi adalah suatu system informasi yang mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan kejadian ekonomi dari suatu organisasi kepada pihak yang berkepentingan.
2.      Menurut Meigs (dalam Wikipedia.com,2008) akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi, dan menginterpretasikan aktivitas keuangan.
Dengan demikian secara singkat, pengertian akuntansi dari beberapa para ahli diatas berarti rekening atau perkiraan. Interpretasi terdiri dari tiga bagian yaitu :
1.      Pengidentifikasian, mengenali atau memilah peristiwa-peristiwa ekonomi yang merupakan laporan keuangan / transaksi.
2.      Mencatat, pencatatan dilakukan secara sistematis, kemudian pencatatan itu diklasifikasikan dan diringkas.
3.      Pengukuran, menetapkan nilai dariperistiwa yang dipilih tersebut dalam satuan uang, serta
4.      Pengkomuniksian, menyajikan informasi berdasarkan transaksi yang sedang atau sudah berlangsung.
Untuk menggambarkan berbagai sisi akuntansi, Belkaoui (1986) dan penulis lain disebutkan beberapa image yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi sebagai berikut :
1.      Akuntansi sebagai suatu ideology
2.      Akuntansi sebagai suatu bahasa
3.      Akuntansi sebagai suatu catatan historis
4.      Akuntansi sebagai suatu realitas ekonomi saat ini
5.      Akuntansi sebagai system informasi
6.      Akuntansi sebagai suatu komuditi
7.      Akuntansi dianggap sebagai pertanggungjawaban
8.      Akuntnasi sebagai teknologi

Dr. Bambang Sudibyo menganggap bahwa akuntansi adalah technology yaitu mengubah data-data atau bukti-bukti transaksi menjadi model informasi yang lebih bermanfaat bagi para pemakainya. 


BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
            Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa sejarah akuntansi di Indonesia tentu tidak lepas dari perkembangan akuntansi di Negara asal perkembangannya, dengan kata lain, Negara luarlah yang membawa akuntansi itu masuk ke Indonesia. Kendatipun bisa disangkal bahwa di masyarakat Indonesia sendiri pasti memiliki system akuntansi.
 Orang yang pertama kali menerbitkan buku double entry bookkeeping adalah Lucas Pacioli pada tahun 1949. Sedangkan di Indonesia akuntansi mulai diterapkan pada tahun 1642, tetapi jejak yang jelas baru ditemui pada pembukuan Amphion Society yang berdiri di Jakarta sejak tahun 1747.
Akuntansi sangat berhubungan dengan bidang-bidang lain, meskipun hal itu tidak selalu berhubungan. Terutama di zaman modern ini yang pertarungan bisnis dan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat menuntut semua kegiatan menggunakan ilmu akuntansi meskipun terkadang tidak dilakukan persis sesuai dengan aturan.
3.2. Saran
Penulis mengharapkan kepada semua pihak yang terutama pihak yang terkat dengan langsung agar dapat menggunakan akuntansi sebagaimana mestinya. Lebih dari itu, penulis mengharapkan agar tidak melupakan serta dapat mempertahankan dan mengembangkan akuntansi itu sendiri, terlebih di zaman yang semakin maju ini





Tidak ada komentar:

Posting Komentar